Dia yang selalu berputar-putar dalam pikiranku…
Dia yang aku bayangkan akan kulihat di sebelahku tiap kali fajar membangunkanku…
Dia yang aku pikir akan menjadi tempatku bersandar saat hidup mulai terasa beku…
Dia yang aku harap akan terus memegang tanganku ketika dunia mulai mencobaku…
Dia, yang bahkan rupanya tak aku tahu…
Apakah dia sadar kalau aku kerap memimpikannya???
Tergetarkah hatinya tiap kali aku membatinnya???
Dia…
Apakah
Dia, Kamu???

Aku Ada dengan CINTa

April 7, 2008

Saat pagi datang, tidak ada yang lebih aku inginkan dari hangatnya sinar matahari Aku ingin membiarkannya menjelajahi sekujur tubuhku, tubuhku yang masih terasa malas oleh pelukan malam. Aku sedikit merasa tak nyaman, memang… tapi aku yakin beberapa detik kemudian, pagi akan benar-benar memenangkanku. Sudah biasa… aku sudah terbiasa seperti itu… Seperti halnya aku dengan CINTA… Aku terbiasa berada di antara dua dunia. Ada kalanya satu dunia begitu mendekapku, dan ada kalanya dunia yang satunya lagi menarik dan membawaku bersamanya… Mungkin terdengar konyol… atau bodoh, karena aku seperti boneka saja, yang bisa dibawa kesana kemari oleh pemilikku (yang berhasil mendapatkanku, tentunya) Kadang… karena itu perasaanku terasa tidak ada artinya lagi, tapi lagi-lagi aku diingatkan, bahwa aku ada… dengan CINTA. Ada Cinta yang bersamaku… dan selalu saja melekat padaku untuk bertahan di tengah… CINTA yang bebas itu tetap saja peduli padaku, tidak peduli bahwa juga selalu ada SPASI di antaranya… Sungguh hebat kukira, karena CINTA yang ada denganku ini terasa begitu kuat… CINTA ini bisa menjadi tameng pelindungku, yang kerap kali melindungiku dari dua dunia itu… Aku masih dapat menjadi tenang… tidak terlalu khawatir karenanya…

Karena aku ada dengan CINTA…

Spasi lahir untuk menandai, spasi ada sebagai pemisah, spasi muncul untuk membentangkan jarak. Jarak yang coba dikalahkan oleh manusia dengan teknologi dan semacamnya. Hingga manusia menjadi lupa esensi dari sebuah hubungan yang sebenarnya. Bukan jarak sesungguhnya yang harus dipatahkan, tetapi justru ketakutan dalam diri manusia akan hilangnya rasa yang tersimpan karena terpisah jarak. Bukan pula teknologi yang harusnya diandalkan. Ia hanya berusaha merangkaikan sebuah hubungan semampunya. Sementara selebihnya ia berharap pada kesanggupan manusia. Kesanggupan untuk mempertahankan sebuah rasa. Rasa yang dinamai manusia, “cinta”. Karena teknologi pada dasarnya tak sempurna dan jarak itu pada hakikatnya akan selalu disana. Seperti halnya spasi diantara cinta.

Pernahkah kau berpikir kenapa bahasa kita punya lebih dari 1 kata untuk menerjemahkan kata “love”?? Kenapa bahasa kita punya kata: “cinta”, “sayang”, “kasih”, hanya untuk sebuah kata “love” tersebut. Apa kata itu begitu istimewa?? Ataukah hanya bahasa kita yang terlalu kaya kosakata?? Ah, entahlah. Akan lebih baik mungkin kalau kita tidak memparsialkannya. Cukup anggap “love” tersebut sebagai perasaan tulus yang kita bagi untuk sesama. Karena “love” itu universal, dan bukankah “love” itu semestinya universal?? Jadi katakan, apakah kau sudah punya “love’ itu??

Cinta… cinta… cinta… tiga kali aku sebutkan kata itu

Cinta… cinta… cinta… kali ini sudah enam kali aku menyebut kata itu

Apakah ada rasa yang bertambah di hatimu, ketika kata itu semakin bertambah?

Mungkin iya, mungkin tidak…

Sebenarnya berapapun jumlah kata itu disebutkan, semuanya tetap sama…

Karena kita mendengarkan CINTA… tidak perlu KUANTITAS untuk menilainya, melainkan hanya perlu KUALITAS untuk merasakannya…

Tapi kadang KUANTITAS bagi sebagian orang menjadi sangat penting, tahu kenapa?

karena ada suatu jarak… ada suatu SPASI yang amat sangat dirasakannya di antara CINTA, sehingga membuatnya menilai KUANTITAS itu harus terpenuhi… untuk mencegah SPASI di antara CINTA

Padahal… sebenarnya SPASI itu selalu ada… SPASI tidak semudah itu dikalahkan KUANTITAS, bahkan oleh KUANTITAS yang paling tinggi sekalipun…

Karena CINTA selalu membutuhkan ruang, selalu membutuhkan kebebasannya dalam bernafas… dalam bergerak…

Karena CINTA bukan sebuah remote control yang dapat ditekan sesuka hati… CINTA punya kendalinya sendiri, CINTA punya kekuatannya sendiri…

Karena itu selalu ada SPASI… karena CINTA itu tak semudah yang dibayangkan… dan tak semudah yang dikatakan…

CINTA melebihi segala rasa, sesungguhnya memiliki rasa yang tak mampu benar-benar terjelaskan…

Oleh karena itu, kembali pada SPASI… karena tidak ada yang benar-benar luput dari SPASI

Selalu ada SPASI di antara CINTA…

spasi cinta

Maret 31, 2008

it’s about RozaNofear… and all about love…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.